Kamis, 20 Maret 2014

Makna Foto






Alone. Begitulah Livia menamakan potret yang ia ambil. 
Jika dilihat dari kasat mata, gambar itu hanya menampilkan anak tangga beserta pegangannya, serta 1 orang yang sedang berjalan. Artinya? pasti tidak jauh dari orang yang sedang berjalan di jembatan penyebrangan. Tapi tidak tahukah kalian bahwa foto tersebut memiliki arti luas yang saling berkaitan yang bisa membuat sebuah bahaya besar bagi dunia? Lebay, berlebihan? Tentu tidak. 
Kenapa???

Read and imagine this...

     Tangga. Fungsinya adalah untuk membantu kita menuju ke suatu tempat yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tangga tanpa disertai dengan pegangan bisa membuat seseorang jatuh jika tidak berhati-hati.
Orang dalam foto ini sedang berjalan dengan santai di jembatan penyebrangan. Untuk berjalan diatas sana dengan santai, ia harus menaiki anak tangga terlebih dulu. Menaiki anak tangga baik banyak atau sedikit, akan membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan berjalan lurus. Begitulah yang terjadi dalam hidup manusia.
      Tidak banyak yang menyadari hal ini. Untuk mencapai kesuksesan, kita harus berusaha sekuat tenaga. Usaha inilah  yang diilustrasikan dengan saat menaiki tangga. Dan keberhasilan adalah saat orang tersebut sudah berjalan santai di jembatan penyebrangan yang lurus.
Tangga secara tidak langsung dibuat untuk orang yang berkondisi fisik sempurna. Orang yang miliki kekurangan pada kondisi fisiknya (memiliki 1 kaki, buta, lumpuh, dsb.) tidak akan bisa menaiki tangga dengan sempurna. Pasti ada yang membantunya untuk mencapai jembatan lurus itu. Namun, tegantung apakah orang tersebut mau dibantu atau tidak. Kalau pun ia mau, beruntunglah jika disekitarnya ada orang lain yang ingin membantu. Bagaimana jika tidak? Mau tidak mau ia harus berjuang sendiri. (Alone).
     Sebanyak apapun  orang disekitar kita yang membantu, akan tiba saatnya kita untuk berusaha sendiri, akan ada saatnya individu lain mementingkan dirinya sendiri, dan melupakan kita. Saya mengambil gambar ini sebagai bahan tugas 'Mengulas Foto berdasarkan Teori Psikologi' karena saya tertarik dengan 'Individu', bukan kelompok. Dalam gambar ini, saya bisa melihat Livia sebagai fotografer berusaha menampilkan suasana kesendirian dari seseorang yang disajikan dalam pewarnaan hitam putih. Orang pada gambar tersebut terlihat berjalan sendiri, padahal dapat kita ketahui bahwa biasanya jembatan penyebrangan selalu diramaikan dengan orang yang sedang berlalu lalang, apalagi saat siang seperti di foto tersebut. Apakah mungkin, yang dimaksudkan kesendirian ini adalah hatinya?
     Individu lahir dari rahim seorang ibu yang kemudian diberikan harapan-harapan baginya saat besar nanti. Namun, penentu bisa atau tidaknya harapan baik itu terwujud adalah individu itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui, manusia bersikap dikendalikan oleh kognitif nya. Manusia memiliki panca indera, serta otak yang dapat menghasilkan sebuah respon. Stimulus-stimulus dari luar akan ditangkap oleh panca indera kita, kemudian diproses melalui otak menghasilkan pikiran yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk respon. Baik atau buruknya stimulus, tergantung pada bagaimana cara kita mengolahnya. Kesendirian dalam foto ini saya pikir adalah, individu tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Ketidaktahuan akan dirinya sendiri ini menimbulkan negative social cognition, dimana dasar pemikiran individu mengenai diri sendiri maupun orang lain akan menjadi tidak baik. Mengapa bisa begitu? Saya akan membahas melalui teori dari Alfred Adler dengan Psikologi Individualnya, serta Bandura dengan Belajar Sosialnya.
     Psikologi Individual mengajarkan bahwa setiap orang memulai hidup dengan kelemahan fisik yang memunculkan peasaan inferior, yakni perasaan yang memotivasi seseorang untuk berjuang demi meraih superioritas atau keberhasilan. Individu yang tidak sehat secara psikologis akan berjuang untuk superioritas pribadi. Sedangkan individu yang sehat secara psikologisnya akan mencari keberhasilan untuk semua manusia. Individu yang tidak bisa mengerti dengan dirinya sendiri ini bisa semasa kecilnnya merasa terabaikan atau justru terlalu dimanjakan, sehingga tujuan hidup mereka sebagian besar berada di ketidasadaran. Untuk meraih sebuah superioritas, ia mengandalkan kedekatannya dengan orang tuanya. Beberapa orang berjuang meraih superioritas dengan sedikit atau tanpa memperhatikan orang lain, karena tujuannya adalah personal, untuk dirinya sendiri, dan usaha mereka sebagian besar dimotivasi oleh perasaan inferior berlebihan sehingga muncullah Inferiority Complex. Mereka cenderung menutup diri dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Inilah yang membahayakan, ditambah manusia yang cenderung untuk bersikap imitasi. Dalam teori Bandura mengenai belajar sosial, ia mengatakan bahwa manusia cenderung untuk mengikuti perbuatan orang yang lebih dewasa yang ia lihat atau dikenal dengan imitasi.
       Sebelumnya saya mengatakan bahwa 1 individu saja bisa membuat sebuah kehancuran bagi dunia, mengapa?  Manusia, atau bahkan individu adalah mahluk yang sederhana. Lahir dari seorang ibu, kemudian mengalami tahap perkembangan, lalu mengakhiri hidupnya. Tapi, dalam masa perkembangannya, apakah ia mendapat pegasuhan yang baik dari kedua orang tuanya? Bagaimana gaya hidupnya? Terabaikan kah? Manja kah? Dan bagaimanakah lingkungan tempat ia tinggal? Baikkah bila ia melakukan imitasi? Kecenderungan apakah yang akan ia miliki? Agresi? Menarik diri? Sangat banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam daur hidup manusia. Itulah mengapa saya mengatakan, 1 individu bisa menyebabkan kehancuran. Ia bisa akan mencontoh, dan menjadi contoh bagi orang lain. Bila ia berkarakter baik, akan ada orang baik lainnya. Bila ia berkarakter buruk, akan ada orang buruk lainnya bahkan lebih buruk darinya. Semua tergantung bagaimana cara ia menaiki tangga hidupnya. Tergantung bagaimana ia belajar memahami dirinya. Kesepian karena disekitar kita tidak ada orang terasa lebih baik, ketimbang kesepian tapi sebenarnya kita ada ditengah keramaian. Alone.


Sumber : Feist&Feist. Teori Kepribadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar