Sabtu, 29 Maret 2014

Tes Kemampuan Mental

Sebelum mengetahui Tes nya, lebih baik kita berkenalan dulu dengan 'Mental.'
Apakah mental itu?
Mental diartikan sebagai kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik yang dimiliki seseorang yang tercermin dalam sikap dan perbuatan atau terlihat dari psikomotornya.

'Mental' sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian).
Maka, semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak perilaku. Mental juga bisa menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan bagi individu.

Ada 2 golongan mental manusia:
1)Golongan Mental Sehat
2)Golongan Mental Sakit/tidak sehat

Golongan Mental Sehat
Orang yang memiliki mental yang sehat adalah yang memiliki sifat-sifat antara lain:
-mempunyai kemampuan untuk bertindak secara efesien
- memiliki konsep diri yang sehat
- memiliki koordinasi antara kemampuan yang dimiliki dengan usahanya
- memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian dan memiliki batin yang tenang
Kesehatan mental juga berkaitan dengan proses interaksi antara diri sendiri dengan lingkungan.

Golongan Mental Sakit/tidak sehat
orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya.
Adanya abnormalitas mental ini biasanya disebabkan karena ketidakmampuan individu dalam menghadapi kenyataan hidup, sehingga muncul konflik mental pada dirinya.
Sifatnya dapat dilihat dari segi:
1). Perasaan
Orang yang kurang sehat mentalnya akan selalu merasa gelisah karena kurang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.
(2). Pikiran
Orang yang kurang sehat mentalnya akan mempengaruhi pikirannya, sehingga ia merasa kurang mampu melanjutkan sesutu yang telah direncanakan sebelumnya, seperti tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjan, pemalas, pelupa, apatis dan sebgainya.
(3)  Perbuatan
Pada umumnya orang yang kurang sehat mentalnya akan tampak pada kelakuan-kelakuannya yang tidak baik, seperti keras kepala, suka berdusta, mencuri, menyeleweng, menyiksa orang lain, dan segala yang bersifat negatif. 

Mental juga sering dikaitkan dengan Intelegensi. Intelegensi yang baik bisa membantu perkembangan mental yang baik pula.
Intelegensi dipengaruhi oleh faktor-faktor :
 a)   Pembawaan/Gen
 faktor yang ditentukan oleh sifat-sfiat yang dibawa sejak lahir. 
b)    Kematangan
faktor yang berhubungan erat dengan umur
 c)    Pembentukan
segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi 
 d)   Minat
 faktor yang mengarahkan perbuatan kepada tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu
 e)  Kebebasan
faktor yang membuat manusia dapat memilih cara-cara tertentu dalam memecahkan masalah.

Hendyat (2002) mengemukakan bahwa pengukuran intelegensi dapat dilakukan dengan cara melakukan tes intelegensi yaitu untuk mengukur kemampuan terutama tingkah laku yang diharapkan pada saat tes itu dibuat dan laksanakan. Pengukuran intelegensi pertama kali dilakukan oleh Binet dan Simon, dikenal dengan nama tes Binet-Simon. Pada tes ini memperhatikan dua hal, yaitu: 
a. Umur kronologis (cronologis age disingkat CA)
yakni: umur seseorang yang ditunjukkan dengan kelahirannya. 
b. Umur mental (mental age disingkat MA)
yakni: umur kecerdasan yang ditunjukkan oleh hasil tes kemampuan akademik.

Sementara itu diketahui juga pada tahun 1960 bahwa terdapat Tes Psikologis yang berguna untuk mengetahui masalah psikologis seperti gangguan pikiran. Tes ini dinamakan Tes Rorschach.

Tes Rorschach dilatar belakangi oleh:
1)Munculnya asumsi mengenai hubungan antara persepsi dengan kepribadian
2)Adanya bercak tinta (yang menjadi dasar pemikiran) bahwa terdapat persepsi spontan yang tidak dipelajari
3)Hingga hadirlah tujuan utama dari penelitian ini adalah ingin menggambarkan kepribadian seseorang berdasarkan keseluruhannya (Gestalt)

Ada 4 tahap pelaksanaan tes Rorschach:
1.Performance Propper
2.Inquiry
3.Analogy
4.Testing the limit

Baiklah, sekian dan terimakasiiihhh ~ 

Sumber:
www.psikologimania.com
id.wikipedia.org
onlinesyariah/pengertian pembinaan mental
Anastasi,A & Urbina,S. (2007). Tes Psikologi Edisi ke Tujuh. Jakarta.



Jumat, 21 Maret 2014

Tingkat Kedisiplinan vs Prestasi Mahasiswa

Cihuy, nge post lagi nih.... eksis banget yah di blog minggu inii??
Iyalaaah, secara tugasnya mas Seta 1x pertemuan ada 4. cakep bener daahh :')
Tugas yang satu ini saya disuruh mencari tahu, sebenarnya ada hubungannya tidak sih antara mahasiswa yang datang tepat waktu dengan nilai IPK nya? Apakah iya kalo mahasiswa dateng pagi tuh pasti IPK nya baik? Nah.... mari kita bahas bersama.

Disiplin itu apa sih?
- taat pada peraturan yang telah dibuat
- latihan membentuk, menyempurnakan, dan meluruskan sesuatu
- adanya hukuman untuk melatih, dan memperbaiki diri

Fungsinya apa?
- menciptakan ketertiban
- adanya tanggung jawab atas kebebasan yang dimiliki
- cara pembentukan tingkah laku

Mari kita kaitkan dengan teori perkembangan milik Erick Erickson.
Ericson membagi perkembangan menjadi 8 tahap. Bagi mahasiswa, mereka masuk kedalam tahap ke 5 yaitu Identity vs Identity Confusion yang mencakup usia 12-18 tahun. Di usia ke 18 inilah individu mulai masuk kedalam perguruan tinggi, dan menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa pada dasarnya dalah sama. Sama-sama seorang murid yang mendapat pendidikan dan pengajaran dari seorang guru yang lebih dikenal dengan dosen. Namun yang membedakannya dengan masa sekolah adalah, bila dalam sebuah universitas, peraturan yang ada mengenai jam masuk kampus tidak se-ketat pada masa sekolah.
Bisa kita ingat bahwa saat bersekolah, bila waktu tepat menunjukkan pukul 7.00 artinya semua siswa harus ada dikelas, sisanya akan dinyatakan terlambat dan mendapat sanksi secara langsung oleh gurunya yang membuat anak tersebut malu/lelah saat menjalankan hukumannya. Lain halnya dengan saat kuliah. Dosen masih memberikan toeransi waktu keterlambatan, dan bila memang mahasiswa tersebut sudah melewati batas keterlambatannya, ia masih tetap boleh masu meskipun tidak diabsen. Tidak ada hukuman pasti yang akan diberikan dosen, karena mahasiswa dituntut untuk memiliki kesadaran atas dirinya sendiri.

Konsep inilah yang membuat ma-ba(mahasiswa baru) jadi 'nge gampangin'. "Selow ajaaa." Menjadi kata andalan kalau mereka sudah terlambat. Pada tahap umur ini, mereka juga sedang bingung untuk mencari identitas siapa dirinya sebenarnya. Lingkungan sekitar sangat berpengaruh bagi perkembangan individu di usia ini. Dalam satu tahun ini, individu kemudian akan beranjak ke tahapan selanjutnya yaitu Intimacy vs Isolation (usia 19-30). Di tahap ini, terbentuklah proses pembentukan relasi intim dengan orang lain. Individu usia ini akan membentuk sebuah kelompok pertemanan yang sehat, dan akrab yang intim dengan oang lain. Mereka akan lebih mengikuti apa yang peer group lakukan agar mereka bisa menjadi sama, satu golongan. (bila temannya terlambat, maka ikut terlambat juga.)

Sedangkan bila dilihat dari teori Bandura-Belajar Sosial, individu cenderung melakukan imitasi. Yang diimitasi adalah senior-senior yang sebelumnya memberikan sugesti yang kemudian tertanam dalam mindset mereka bahwa,"Kuliah mah selow, telat juga gapapa." Jadinya yah langgar teruuusss. Disiplin pun terbengkalai. Prestasi? Boro-boro. Pergaulan buruk merusak kebiasaan baik lohh. Jadi tingkat kedisiplinan mempengaruhi prestasi. Kalau dateng ke kelasnya aja udah telat, gimana bisa dia ikutin materi dengan baik, benar, dan fokus? IPK pun pasti teranam punah. (halah.) hahaha

Nah, itu tadi sih pendapat saya tentang pertanyaan,"Kenapa kok saat 12 tahun sekolah bisa disiplin, tapi pas mahasiswa engga?" dan pendapat tentang,"tingkat kedisiplinan mempengaruhi prestasi mahasiswa atau tidak."

Sekaraaaang, coba kita cocokkan dengan jurnal milik non Anne Ahira ini. dan hasilnyaaa....

COCOKK!!!
disiplin memang mempengaruhi prestasi.

Anne Ahira melakukan penelitiannya bukan terhadap mahasiswa, melainkan siswa. namun keduanya sama-sama membutuhkan kedisiplinan. Bahkan di tiap  tingkat pendidikan selalu dibutuhkan kedisiplinan.
Memang sihh pada awalnya akan ada pemaksaan dalam proses pendisiplinan, namun pada akhirnya, disiplin akan bermanfat bagi pembentukan karakter individu tersebut. Individu yang berhasil dimulai dari individu yang mau berdisiplin. Jadi kesimpulannya, kedisiplinan mempengaruhi prestasi mahasiswa.


Sumber:
www.psikologizone.com
http://www.anneahira.com/pengaruh-disiplin-terhadap-prestasi-belajar.htm
Santrock, Jhon W Life Span Development

Kamis, 20 Maret 2014

Makna Foto






Alone. Begitulah Livia menamakan potret yang ia ambil. 
Jika dilihat dari kasat mata, gambar itu hanya menampilkan anak tangga beserta pegangannya, serta 1 orang yang sedang berjalan. Artinya? pasti tidak jauh dari orang yang sedang berjalan di jembatan penyebrangan. Tapi tidak tahukah kalian bahwa foto tersebut memiliki arti luas yang saling berkaitan yang bisa membuat sebuah bahaya besar bagi dunia? Lebay, berlebihan? Tentu tidak. 
Kenapa???

Read and imagine this...

     Tangga. Fungsinya adalah untuk membantu kita menuju ke suatu tempat yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tangga tanpa disertai dengan pegangan bisa membuat seseorang jatuh jika tidak berhati-hati.
Orang dalam foto ini sedang berjalan dengan santai di jembatan penyebrangan. Untuk berjalan diatas sana dengan santai, ia harus menaiki anak tangga terlebih dulu. Menaiki anak tangga baik banyak atau sedikit, akan membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan berjalan lurus. Begitulah yang terjadi dalam hidup manusia.
      Tidak banyak yang menyadari hal ini. Untuk mencapai kesuksesan, kita harus berusaha sekuat tenaga. Usaha inilah  yang diilustrasikan dengan saat menaiki tangga. Dan keberhasilan adalah saat orang tersebut sudah berjalan santai di jembatan penyebrangan yang lurus.
Tangga secara tidak langsung dibuat untuk orang yang berkondisi fisik sempurna. Orang yang miliki kekurangan pada kondisi fisiknya (memiliki 1 kaki, buta, lumpuh, dsb.) tidak akan bisa menaiki tangga dengan sempurna. Pasti ada yang membantunya untuk mencapai jembatan lurus itu. Namun, tegantung apakah orang tersebut mau dibantu atau tidak. Kalau pun ia mau, beruntunglah jika disekitarnya ada orang lain yang ingin membantu. Bagaimana jika tidak? Mau tidak mau ia harus berjuang sendiri. (Alone).
     Sebanyak apapun  orang disekitar kita yang membantu, akan tiba saatnya kita untuk berusaha sendiri, akan ada saatnya individu lain mementingkan dirinya sendiri, dan melupakan kita. Saya mengambil gambar ini sebagai bahan tugas 'Mengulas Foto berdasarkan Teori Psikologi' karena saya tertarik dengan 'Individu', bukan kelompok. Dalam gambar ini, saya bisa melihat Livia sebagai fotografer berusaha menampilkan suasana kesendirian dari seseorang yang disajikan dalam pewarnaan hitam putih. Orang pada gambar tersebut terlihat berjalan sendiri, padahal dapat kita ketahui bahwa biasanya jembatan penyebrangan selalu diramaikan dengan orang yang sedang berlalu lalang, apalagi saat siang seperti di foto tersebut. Apakah mungkin, yang dimaksudkan kesendirian ini adalah hatinya?
     Individu lahir dari rahim seorang ibu yang kemudian diberikan harapan-harapan baginya saat besar nanti. Namun, penentu bisa atau tidaknya harapan baik itu terwujud adalah individu itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui, manusia bersikap dikendalikan oleh kognitif nya. Manusia memiliki panca indera, serta otak yang dapat menghasilkan sebuah respon. Stimulus-stimulus dari luar akan ditangkap oleh panca indera kita, kemudian diproses melalui otak menghasilkan pikiran yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk respon. Baik atau buruknya stimulus, tergantung pada bagaimana cara kita mengolahnya. Kesendirian dalam foto ini saya pikir adalah, individu tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Ketidaktahuan akan dirinya sendiri ini menimbulkan negative social cognition, dimana dasar pemikiran individu mengenai diri sendiri maupun orang lain akan menjadi tidak baik. Mengapa bisa begitu? Saya akan membahas melalui teori dari Alfred Adler dengan Psikologi Individualnya, serta Bandura dengan Belajar Sosialnya.
     Psikologi Individual mengajarkan bahwa setiap orang memulai hidup dengan kelemahan fisik yang memunculkan peasaan inferior, yakni perasaan yang memotivasi seseorang untuk berjuang demi meraih superioritas atau keberhasilan. Individu yang tidak sehat secara psikologis akan berjuang untuk superioritas pribadi. Sedangkan individu yang sehat secara psikologisnya akan mencari keberhasilan untuk semua manusia. Individu yang tidak bisa mengerti dengan dirinya sendiri ini bisa semasa kecilnnya merasa terabaikan atau justru terlalu dimanjakan, sehingga tujuan hidup mereka sebagian besar berada di ketidasadaran. Untuk meraih sebuah superioritas, ia mengandalkan kedekatannya dengan orang tuanya. Beberapa orang berjuang meraih superioritas dengan sedikit atau tanpa memperhatikan orang lain, karena tujuannya adalah personal, untuk dirinya sendiri, dan usaha mereka sebagian besar dimotivasi oleh perasaan inferior berlebihan sehingga muncullah Inferiority Complex. Mereka cenderung menutup diri dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya. Inilah yang membahayakan, ditambah manusia yang cenderung untuk bersikap imitasi. Dalam teori Bandura mengenai belajar sosial, ia mengatakan bahwa manusia cenderung untuk mengikuti perbuatan orang yang lebih dewasa yang ia lihat atau dikenal dengan imitasi.
       Sebelumnya saya mengatakan bahwa 1 individu saja bisa membuat sebuah kehancuran bagi dunia, mengapa?  Manusia, atau bahkan individu adalah mahluk yang sederhana. Lahir dari seorang ibu, kemudian mengalami tahap perkembangan, lalu mengakhiri hidupnya. Tapi, dalam masa perkembangannya, apakah ia mendapat pegasuhan yang baik dari kedua orang tuanya? Bagaimana gaya hidupnya? Terabaikan kah? Manja kah? Dan bagaimanakah lingkungan tempat ia tinggal? Baikkah bila ia melakukan imitasi? Kecenderungan apakah yang akan ia miliki? Agresi? Menarik diri? Sangat banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam daur hidup manusia. Itulah mengapa saya mengatakan, 1 individu bisa menyebabkan kehancuran. Ia bisa akan mencontoh, dan menjadi contoh bagi orang lain. Bila ia berkarakter baik, akan ada orang baik lainnya. Bila ia berkarakter buruk, akan ada orang buruk lainnya bahkan lebih buruk darinya. Semua tergantung bagaimana cara ia menaiki tangga hidupnya. Tergantung bagaimana ia belajar memahami dirinya. Kesepian karena disekitar kita tidak ada orang terasa lebih baik, ketimbang kesepian tapi sebenarnya kita ada ditengah keramaian. Alone.


Sumber : Feist&Feist. Teori Kepribadian.

Minggu, 16 Maret 2014

Konsep Dasar Tes Psikologi

Halo..
ini adalah entri kedua mengenai materi dari mata kuliah Psikodiagnostik. Dan tentunya masih berupa ulasan yang belum diperbaiki.
Dari hasil pencarian saya mengenai materi ini, maka ada beberapa hal yang harus disampaikan.

Sebelumnya, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai, "Apa itu tes psikologis?"
Nahhh, pada dasarnyaaa, tes psikologi ini merupakan sebuah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel peilaku tertentu.
Didalam tes Psikologis iniii terdapat nilai diagnostik atau lebih sering kita tahu dengan nilai prediktif yang bergantung pada sejauh mana tes tersebut menjadi indikator bidang perilaku yang relatif luas, dan signifikan.

Yang patut kita ingat, sejak awal tes psikologis sudah digambarkan sebagai alat ukur yang dibakukan. Dengan ini, maka harus ada yang namanya Standardisasi. Apasihh??

Standardisasi itu bertujuan untuk menunjukkan keseragaman cara penyelenggaraan dan penilaian atas tes psikologis tersebut. Kalau skor yang diperoleh berbagai macam sampel harus bisa dibandingkan, mkaha kondisi tes nya pun juga harus sama bagi sampelnya. Biasanya, standardisasi ini menyangkut:
-jumlah tempat
-materi yang digunakan
-batas waktu
-instruksi lisan
-demonstrasi awal
-cara menjawab tes

Gak cuma itu. Dalam pen-standardisasian tes juga harus menetapkan norma-norma.
Emang sihhh kalau tes psikologis itu tidak ada standard kelulusan kayak UN. Tapiiii tes ini menilainya dari kinerja normal atau rata-rata. Tapi tenaang, norma-norma itu yang pasti tidak akan ada respon-respon maladaptif/yang tidak menyenangkan kook.

Tadi standardisasi, sekarang beralih ke Pengukuran Kesulitan yang Objektif.
Balik lagi ke definisi awal tes psikologis itu sendiri. Ukuran tes ini adalah obyektif dan dibakukan. Jadii, penyelenggaraan, penilaian, dan interpretasi skor yang didapat adalah obyektif, sejauh skor-skor itu tidak bergantung pada penilaian subyektif penguji tertentu.
Peserta tes mana pun harus secara teoritis memperoleh skor yang sama pada tes, terlepas dari siapa pengujinya. Disini ada beberapa cara lain yang bisa mendeskripsikan tes-tes psikologis sebagai alat ukur yang obyektif, yaitu penentuan itngkat kesulitan sebuah butir soal/seluruh tes yang didasarkan pada prosedur empiris yang obyektif juga.

Keandalan. Dibutuhkan keandalan dalam tes ini.
Banyak dari kita yang masih awam dengan tes-tes ini merasa,"Emang tes ini penting ya? Beneran efektif ga sih??" Nah, hebatnya, kadang ada orang awam lainnya yang suka asal menjawab setahu mereka, meskipun kadang itu belum tentu benar, sehingga timbullah bias-bias pribadi yang menghasilkan klaim berlebihan atas tes ini.
Parah kan? Makanya, untuk menghindari adanya bias-bias tersebut, tes-tes psikologis ini haris melalui prosespengujian empiris dengan Evaluasi Objektif yang mencakup keandalan dan validitas tes dalam situasi-situasi khusus.
Keandalan apa sih maksudnya?
Keandalan itu bisa kita temukan di psikometri, yang berarti konsistensi. Jadi, keandalan tes adalah, konsistensi skor-skor yang didapatkan oleh orang-orang yang sama ketika diberikan tes ulang dengan soal tes yang sama.
Keandalan ini diperiksanya dengan cara membandingkan skor-skor yang diperoleh peserta tes yang sama pada waktu yang berbeda. Jumlah dan jenis orang menjadi dasar pemeriksaan keandalan juga harus dilaporkan juga, agar orang yang mengikutinya bisa tahu seberapa andal tes ini.

Kalo baca kata ini, langsung deh inget statistik. Heeem, Validitas.
Validitas ini merupakan sejauh mana tes itu berhasil mengukur apa yang menjadi fungsi utamanya. Penentuan validitas ini memerlukan kriteria independen dan eksternal tentang apa saja yang menjadi sasaran pengukuran tes tersebut.

Jadi.... dalam pembuatas tes psikologis itu harus menyangkut standardisasi, pengukuran kesulitan yang objektif, keandalan, dan validitas. Gitu..

"Lalu, kenapa penggunaan tes prikologi itu perlu dikendallikan?"

Pasti banyak yang berpikir akan pertanyaan ini. Terkadang tes psikologis diberikan dengan ssangat unik sehingga yang mengisi jadi enjoy menjalani tes nya. Maka, tidak salah lagi bila ada orang yang ingin mengulangi/melakukan sendiri tes psikologis tanpa mengetahui prosedur yang ada.
Alasannya perlu dikendalikan adalah..
1.Supaya bisa dipastikan kalau tes itu  diberikan oleh penguji yang memenuhi syarat, dan menggunakan skor dengan sepantasnya (agar tidak ada orang asal memakai tes ini.)
2.Untuk mencegah keakraban orang dengan isi tes, yang membuat tes itu tidak valid lagi. (yaa udah ketauan duluan soal-soal tesnya kayak apa, gitu.)

Nih ada petuah yang baik untuk para penyelenggara tes...
Pertama, harus ada kesiapan sebelumnya bagi para penguji. 
Jadi harus sangat dihindari deh yang namanya ngaret, dadakan. supayaaa, keseragaman prosedur bisa terjamin. Toh  persiapan tes ini bisa dilakukan dengan berbagai cara mudah. Beberapanya adala:
-mengahafal instruksi verbal.
karena instruksi inilah yang selalu dibacakan pada peserta tes guna menjaga kesalahan baca/pengerjaan.
-Persiapan materi tes.
mencakup persiapan bahan-bahan yang diperlukan selama tes berlangsung agar ketidak adaannya tidak mengganggu konsentrasi peserta
-Keakraban dengan prosedur tes tertentu.

Kedua, Kondisi-kondisi Tes.
Kondisi ini mencakup lingkungan dan fasilitas tempat berlangsungnya tes. Misalnya, ruangan. ruangan harus yang memenuhi standard layak. yakni, memiliki pencahayaan, fentilasi, tempat duduk, dan jumlah ruangannya pun memadai bagi para peserta tes.
Para penyelenggara juga sangat baik bila menempelkan tanda di pintu untuk menunjukkan bahwa tes sedang berlangsung, atau menempelkan daftar nama/nomor peserta yang ada didalam ruangan itu.

Dan yang terakhir...
Memperkenalkan Tes: Pemahaman dan Orientasi Peserta Tes
Para peserta dibuat nyaman selama berlangsungnya tes tersebut. Dapat pula dilakukan tes per kelompok untuk mengurangi rasa kecemasan mereka. Dalam tes ini, rapor mengacu pada upaya-upaya penguji membangkitkan minat peserta tes, meningkatkan kerja sama, dan mendorong mereka memberikan respons secara tepat pada materi tes.

Yaaap... sekian ulasan dari materi iniii.
Untuk kebenarannya, akan ada dikolom komentar sesaat setelah diskusi di kelas yaa...
See you.

Sumber:
Anastasi, A. dan Urbina, U. (2007). Tes Psikologi, Edisi ke tujuh. Indonesia. PT.Indeks.

Minggu, 09 Maret 2014

Psikodiagnostik dan Psikologi Diferensial

Haiiii...
saya masih gabriela elshadai yang sudah berjanji akan membuat ulasan mengenai "Psikodiagnostik, dan Psikologi Diferensial"
susah banget cari sumber buat materi ini nihhhh, kemaren udah sempet beli salah satu bukunya, tapi saya tambah-tambahin juga sama sumber dari blog. Tapi hanya kesimpulannya aja kook, gak copas :D

Okeeee, maka dapat saya simpulkan bahwa.....

Psikodiagnostik adalah, tehnik atau cara yang digunakan untuk mengetahui kondisi subyek yang diperiksa, yang menyangkut kondisi psikis, jiwa.

Naah, biasanya psikodiagnostik ini digunakan untuk...
    1.CLINICAL SETTING : sebagai usaha mendeteksi gangguan psikis yg dialami individu/klien dan mengukur kemampuan/kekuatan pribadi yang dimiliki individu, sehingga dapat diterapkan pola terapi/treatment yang efektif.
Contoh: di Rumah Sakit pusat kesehatan mental
               di klinik-klinik konsultasi Psikologi

     2.LEGAL SETTING      :  digunakan di pengadilan, rumah pemasyarakatan, tempat-tempat rehabilitasi yang berhubungan dengan masalah tindakan kejahatan, serta pusat rehabilitasi penderita narkotika.

    3.EDUCATIONAL AND VOCATIONAL GUIDANCE : dalam hal ini, focus pemeriksaannya lebih ditekankan bidang pengembangan studi dan kerja. Biasa digunakan di sekolah, universitas, pusat-pusat latihan dan pusat bimbingan karir.
 
    4. EDUCATIONAL AND VOCATIONAL SELECTION :  digunakan untuk rekuitment diperusahaan dan bidang pekerjaan, penempatan, mutasi.  

     5.RESEARCH SETTING          :  untuk kepentingan pengembangan ilmu dan pengmbangan tehnik serta metode diagnostic. Digunakan dilingkup akademik dan perguruan tinggi.

Cara untuk memperoleh datanya adalah dengan metode....
      1.OBSERVASI
*Suatu aktifitas yang dilakukan dengan sengaja dan sistimatis, mengamati aktifitas individu dan tingkah laku individu dengan menggunakan alat utama penyelidikan, yakni: alat indera
*Situasi Observasi:
- Natural setting/alamiah
-Simulated Setting/Tiruan
-Laboratorium        
*Aspek yang diamati:
 - Event Sampling        :  yang diamati hanya beberapa aspek tingkah laku pada saat tertentu.
-Time Sampling          : yang dicatat dan diamati adalah apa saja yang dilakukan individu pada waktu tertentu.      
*Klasifikasi Metode Observasi·       
-Non partisipan·       
-Partisipan·
 
2.     METODE ANGKET
Angket merupakan, suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab dan atau daftar isian yang harus diisi yang berdasarkan pd sejumlah subyek atas jawaban atau isian tersebut.
Klasifikasi Angket :·      
 Berdasarkan atas subyek yang menjawab/mengisi:
- Langsung
-Tidak langsung·       

Berdasarkan bentuk
- Terbuka
- Tertutup·      

3.     METODE WAWANCARA
Adalah yg berdasarkan pada laporan verbal dimana terdapat hubungan langsung antara penyelidik dengan yang diselidiki.Wawancara adalah suatu situasi dimana terjadi pertukaran informasi antara dua orang yang saling bertemu (Secara langsung)


Tujuan dari Psikodiagnostik ini adalah untuk menentukan hubungan antara suatu keadaan atau tingkah laku manusia yang dapat diamati dari luar dengan ciri-ciri individu yang terdapat dalam dirinya untuk memahami karakternya.

Dalam hal ini, Psikodiagnostik termasuk dalam Psikologi Differensial, dimana pengertian psikologi differensial itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari perbedaan dalam fungsi psikologis individu.
Jangan salah lhooo, ini beda dengan psikologi umum. Kenapaa??

Karena....
kalau dalam Psi.Um mempelajari proses psikis, teori-teori psikologi menurut para ilmuwan, bagaimana melihat jiwa individu berdasarkan inner nya, bukan outer nya. Sementara Psi.Differensial itu emang sihh mempelajari mengenai jiwa individu jugaaa, tapi dia tidak melihat sepenuhnya hanya dari jiwanya saja, melainkan juga dari pengaruh keturunan, lingkungan tempat ia berada, perbedaan-perbedaan utama antara kelompok-kelompok baik dari segi sosial ekonomi-gender-keterbakatan, serta suku.

Metode-memtode yang digunakan dalam Psikologi Diferensial berupa:
-penyelidikan variasi
-penyelidikan korelasi
-penyelidikan perbandingan
-penyelidikan psikografi

Psikologi diferensial ini bersifat empiris, bukan teoritis, dan fokus pendekatannya adalah mencari tahu bagaimana individu dapat dikelompokkan ke dalam sub kelompok perkembangannya.

Heeemm yaak begitulah yang saya dapat dari bukunya mba Anne Anastasi, dan juga beberapa dari blog-blog para mahasiswa fakultas lain yang juga mempelajari materi ini. IYA. tahu koook, pasti yang membaca juga ngga ngerti yah tentang entri an saya kali ini? yaa harap dimaklumi yaaa soalnya baru mau dibahas di pertemuan selanjutnya dalam diskusi bareng Mas Seta. Jadiiii, yang bisa saya sampaikan dalam ulasan ini hanyalah sampai disini saja. Mohon maaf karena kekurangannya banyak banget .__. Tapi nanti akan ditambahkan di kolom komentar setelah diskusi kelas rabu nanti. Okeeeh?? 
See youuu...

Rabu, 05 Maret 2014

Pertemuan pertama bersama Mas Seta (lagi) #Psikodiagnostik


Trink! 

Akhirnya oh akhirnya, blog ini kembali aktif. Setelah melalui beberapa masa kesuraman dan kegelapan karena jarang dibuka, akhirnya tangan dan mata kuliah lah yang menjadi pembuka kembali blog ini. Setelah melalui tahap 4 kali salah memasukkan password, saya yang tadinya mengggebu-gebu ingin mengentri review baru jadi sedikit loyo. -__-

Dengan kembali aktifnya blog ini, maka tentu saja ada hal-hal baru baik dari segi isi, kualitas, bahkan mata kuliah. Namun yang tidak berubah hanya satu….. Mas Seta. Hahaha. Beliau kembali mengajar angkatan kami untuk mata kuliah baru di semester 4 ini, yaitu PSIKODIAGNOSTIK 1. *jreeenkjreeeenk*

Saat saya melihat mata kuliah ini di daftar mata kuliah yang akan diambil pada masa perkuliahan semester ini,  ada beberapa hal baru yang muncul di pikiran saya. Pertama, kalau ada angka 1 dibelakang mata kuliah, berarti pasti setidaknya ada angka 2 di masa perkuliahan mendatang. Ada angka 2, tidak menutup kemungkinan ada angka 3. Ada angka 3 bisa juga akan ada angka..... ya begitulah ya kira-kira seterusnya.Kedua, Psikodiagnostik. Dari namanya saja saya sudah sedikit membayangkan pasti akan ada hubungannya dengan alat test, wawancara, serta jenis-jenis lainnya. Dan... ternyata benar lah apa yang sebelumnya pernah saya duga ! *widiiih ngeri*

Begini ceritanya....

Hari ini tepatnya tanggal lima maret tahun dua ribu empat belas, kelas saya mendapat mata kuliah ini di bagian jam petang. (kata Mas Seta sih petang). Saya masuk kelas pukul setengah satu lewat lima belas menitan. Saat masuk kelas, di meja dosen sudah ada Mas Seta dengan laptop serta slide yang sudah terpampang jelas, besar, terang dihadapan kami. 

Kelas tidak langsung dimulai, MasSeta masih menunggu beberapa menit sambil menunggu teman-teman yang lain. Detik demi detik berlalu, menit pun beralu, dan akhirnya Mas Seta mulai membuka mata kuliah ini. 

Sebelumnya seperti biasaaa, sebelum memulai pelajaran, beliau menyarankan kami untuk berdoa lebih dahulu. Berdoa bagi diri sendiri, karena menurut beliau,  kita adalah mahluk yang egois. Selanjutnya berdoa bagi orang yang kita cintai #tsah, berdoa untuk orang yang suka membuat kita kesal, dan juga berdoa untuk pemimpin-pemimpin atau pembimbing gitu. Soalnya kurang denger waktu bagian terakhir. Hehe.
Setelah berdoa selesai, Mas Seta mulai menjelaskan mengenai aturan kelas seperti pada umumnya. Nah, tapi mungkin yang bisa dikatakan 'pada umumnya' adalah cara penyampaiannya. Bukan isi dari aturannya. 

Inilah yang saya katakan sejak awal bahwa akan ada hal baru. Hal baru itu ialah:
1.Maksimal keterlambatan 30 menit. Lebih dari itu, mahasiswa/i boleh masuk namun dinyatakan tidak hadir karena tidak akan diabsen.
2.Bila mahasiswa/i kehadirannya dibawah 75% atau tidak masuk tanpa keterangan sebanyak lebihdari 3 kali, maka beliau akan langsung memberikan nilai D untuk mata kuliah ini.
3.BLOG. Memang sudah pasti untuk mata kuliah Mas Seta, namun kali ini bukan dalam bentuk review lagi melaikan ulasan. IYA, ULASAN. Mengenai materi yang menjadi bahan ajar di pertemuan selanjutnya. 
Jadi, setiap dari kita diberikan daftar materi yang akan dibahas setiap pertemuannya, dan tugas kita adalah mencari baik dari buku/website psikologi/google, tapi jangan dari blog tetangga mengenai materi tersebut. Materi yang kita dapatkan dari sumber itu dibuat dalam bentuk ulasan didalam blog ini. Laluuu, setelah materi ulasan yang kita buat itu sudah dibahas dikelas, maka kita diminta untuk memberikan review(komentar serta informasi tambahan)pada kolom komen di entri an yang sama sesuai dengan materinya. Jelas ga penjelasannya? Hehehe
4.Skoring. Ini nih yang bedanya jau sama mata kuliah yang lain. 
Mas Seta meyakinkan bahwa keaktifan di kelas adalah suatu hal yang sangat  penting. Mahasiswa/i harus mulai membiasakan diri untuk tidak malu bertanya meskipun pertanyaan itu bukan pertanyaan berbobot sekalipun. Maka, persentase penilaiannya adalah,
untuk X (kehadiran + tugas + diskusi) dinilai sebesar 60%
untuk UTS dinilai sebesar 20%
untuk UAS dinilai sebesar 20%

Alhasil, setiap pelajaran Mas Seta, kami diminta untuk merubah sususan bangku. Dari yang tadinya hanya berderet biasa saja, mulai minggu depan sudah melingkar agar memudahkan diskusi. Dalam perkuliahan kali ini, Mas Seta juga menegaskan akan tidak adanya kerja kelompok demi menghindari Free Rider atau penunggang gelap yang bahasa kasarnya sih, cuma numpang nama doang di makalah, sementara temen-temen dikelompoknya yang ngerjain. HIH !


Jadiiii, untuk kedepannya dalam mata kuliah ini, dosen tidak akan berperan sebagai pengajar, melainkan sebagai fasilitator yang mengaarahkan kita untuk saling berdiskusi membahas materi demi materi setiap pertemuannya. Gitu...

Nah, materi hari ini sih ceritanya 'Pengantar Psikodiagnostik'. Maka, setelah menjelaskan tata tertib di kelas ini, Mas Seta mulai menanyakan "Apa pengertian dari Psikodiagnostik?" Nahloh, bingung daaah. Tapi untungnya beberapa dari kami ada yang coba memberanikan diri menjawab apa pengertian Psikodiagnostik menurut mereka. Meskipun sebenarnya belum tepat betul.

Akhirnya Mas Seta menjelaskan dengan cara mudah.
Sebelum tahu lebih banyak, beliau bertanya pada kita. Psikodiagnostik terdiri dari 2 kata, yakni: Psikologi dan Diagnostik. Dan Psikologi sendiri pun terdiri dari 2 kata, yakni:  Psiko yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Maka secara harafiah diartikan bahwa Psikologi adalah Suatu ilmu tentang jiwa yang ada karena melalui perilaku yang terlihat. 

Perilaku itu biasanya didapat dari interaksi individu satu ke individu lainnya, serta proses belajarnya.
Perilaku pun ada 2 jenis, yakni: -Perilaku Spontan
                                                   - Perilaku Menetap

Sedangkan Diagnostik sendiri berarti Pencarian sesuatu untuk mendapatkan sebuah pengetahuan.

Di sela-sela diskusi pengertian ini, Mas Seta menanyakan "Apa kalian tahu kapan Psikologi terbentuk?"
Beberapa dari kami ada lagi yang menjawab, namun untuk lebih tepatnya, Mas Seta menjelaskan kembali secara singkat bahwa Psikologi ada sejak dibentuk nya laboratorium milik Wilhelm Wundt di Leipzig. Wundt dalam penelitiannya menggunakan fisik sebagai tolak ukur. Ia melihat dari fisik serta perilaku individu baik dalam waktu,dan juga tinggi tubuh individu tersebut.

Dalam Psikodiagnostik, hal-hal yang akan dilatih adalah:
1.Describe, yakni bagaimana cara kita menggambarkan sesuatu
2.Explain, yakni cara kita menjelaskan suatu masalah berdasaran sebab-sebabnya
3.Predict, yakni memprediksi
4.Control, yakni mengarahkan

 Akhirnya.... di detik-detik terakhir Mas Seta membacakan materi-materi yang akan dibahas empat belas pertemuan kedepan, dan "Psikologi Diagnostik dan Psikologi Diferensial" lah yang mennjadi materi untuk minggu depan. Itu berarti saya harus mulai mencari isi dari materi ini untuk dibuat ulasannya dalam waktu maksimal 4 hari. Dan juga benarlah dugaan saya sebelumnya. Rangkaian materi mengenai test, dan wawancara ada di mata kuliah ini .__. Yaah, Doakan yaa supaya di mata kuliah ini bisa dapet nilai memuaskan hehe.

Sampai ketemu beberapa hari lagi di entri "Psikologi Diagnostik dan Psikologi Diferensial" !!!

(ada beberapa quotes hari ini, tapi 2 yang saya ambil adalah..)


  "Waktu adalah hadiah. Jadi waktu bukan hak kita. Maka pergunakan waktu yang ada dengan baik."

                                                                            dan

                              "Manusia bukan mahluk yang langka, melainkan unik."

#KataMasSeta