Jumat, 03 Mei 2013

Putih putih melatiiiii ~
mekar di taman sariiiii, semerbak wangi penjuruuu bumiiiii ~

Halloow bloggers ! tau petikan lirik diatas ?
Yap itulah lagu yang berjudul "Melati Suci" karangan Guruh Soekarno Putra.
emmm tetep gatau ?
itu looh yang minggu lalu dibawakan sama Ibu Psikolog Tika Bisono :D

Enah ! tidak ada api, tidak ada asap. Tidak ada sebab, tidak ada akibat.
Itulah yang mau aku kasih tau sekarang.
Petikan lagu di atas gak semata-mata iseng doang diketik, tapi ada hubungannya nih sama postingan aku kali ini. Begini ceritanyaaaa~~


Senin minggu lalu tepatnya tanggal 28 April 2013, kami para mahasiswa/i Psikologi UP bergegas memasuki ruangan 414 karena ada mata kuliah Psikologi Kognitif, dan kami nyaris telat. Setelah berebut tempat duduk, masuklah dosen Kognitif kita , Mas Seta.
Di pertemuan kali ini, beliau sangat berbaik hati mengizinkan kami semua untuk mengikuti seminar mengenai musik, dan hubungannya dengan Psikologi di gedung Fakultas hukum. Tapi dengan catatan, kita jangan lupa untuk tetap mereview hasil seminar tersebut.
Maka, terpostinglah rangkaian blog kali ini yang berawal dari.....


Acara ini, acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi, mengundang bintang tamu yang luar biasa. Mereka adalah Dwiki Dharmawan beserta team dan juga Tika Bisono.
Bagi kalian yang belum mengetahui siapakah mereka, mereka adalah kedua orang yang sama-sama mencintai musik Indonesia. Bedanya, Dwiki Dharmawan lebih mendalami karyanya dengan menjadi pemusik, sementara Tika Bisono, beliau adalah seorang Psikolog anak.

Acara ini dibuka oleh seorang pembawa acara yang juga suka kegiatan bernyanyi. Sebagai tampilan pembuka, dipersembahkanlah penampilan dari Psycho Cousin (kalau tidak salah mendengar namanya sih gitu hehe) mereka adalah anak muda yang sudah mahir memainkan alat musik tradisional, sehingga hasil penampilannya sangat mempesona.
Setelah Psycho Cousin selesai tampil, pembawa acara tersebut menyerahkan acara selanjutnya yaitu wawancara bintang tamu kepada rekannya. Setelah ada pegalihan tersebut, pembawa acara yang baru ini memanggil Tika Bisono, dan Dwiki Dharmawan untuk naik ke atas panggung, dan duduk di sofa yang sudah disediakan. Dan, perbincangan pun dimulai...

Dwiki Dharmawan. Membuka obrolan pertama dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dwiki bercerita bahwa dulu semasa kecil, ia pernah diberi piano sebagai kado ulang tahunnya, dan itulah yang membuat ia lebih menyukai alat musik ini dibanding lainnya.
Menurut Dwiki, dengan musik, transformasi motorik terbagi menjadi 4 bagian:
1.Ritmis
2.Dinamis
3.Melodis
4.Syair

Setelah memberikan sedikit penjelasan, Dwiki sedikit memainkan keyboard sebanyak 3x sebagai contoh untuk musik-musik yang biasa dibawakan untuk menggambarkan perasaan. Setelah selesai memainkannya, ia bertanya mengenai apa perasaan yang kami rasakan saat mendengar permainannya.
Untuk permainan pertamanya, banyak diantara kami menjawab bahwa permainan itu adalah permainan musik slow, galau, haru.
Untuk permainan kedua, banyak diantara kami yang sepakat menjawab bahwa itu adalah permainan musik disaat saat riang.
Dan untuk permainan yang terakhir, Dwiki memainkan musik yang jelas bahwa itu adalah musik horor.
Tujuan dari permainan singkatnya tadi adalah ia ingin mengatakan bahwa  sebenaranya, seluruh ungkapan jiwa itu dapat dilukiskan dengan musik.

Karir Dwiki secara istimewa diawali dengan terbentuknya grup musik "Krakatau". Grup musik ini lebih sering membawakan, dan membuat lagu yang bertemakan lebih membela alam, mengenai sebuah rasa, dan keremajaan. Krakatau adalah grup musik pertama yang diikuti Dwiki.
Cita-cita seorang Dwiki Dharmawan tidak terlalu bemacam-macam, ia hanya ingin bermain musik sampai keliling Indonesia. Bersama Mira Lesmana, ia membuat lagu lagu seperti : Gemilang, Imaji, dan beberapa lagu yang bertemakan kepedulian terhadap sesama. Tema yang diangkat pada pembuatan lagunya kali ini lebih cenderung ke kehidupan sehari-hari.

Pada saat itu, musik instrumen belum sering dimainkan oleh para pemain-pemain seperti dewasa ini. Dulu, dalam acara yang diselenggarakannya yang berjudul "Jazz For Free port" ini, dibuat sebagai bentuk kekecewaannya dengan memainkan musik berupa instrumental saja.
Bagi Dwiki, musik tidak jauh dari sebuah gagasan. Gagasan yang dimaksud adalah, ada terbesit musik di pikirannya yang kemudian ditransfer dengan membunyikannya.

Dahulu, sebelum Dwiki tenar seperti sekarang, ia pernah pergi ke Jepang bersama grup lenong DKI di sebuah universitas. Penampilannya tersebut mendapat kritik dari rektor disana. Rektor itu bertanya bahwa "apakah Indonesia tidak ada musik yang digredasikan kontemporer?" atau lebih mudah dimengertinya, "apakah Indonesia tidak ada musik yang dikolaborasikan dengan musik lain?". Atas pertanyaan inilah muncul ide-ide Dwiki untuk membuat sebuah kolaborasi antara musik gamelan khas tradisional Indonesia, dengan musik Jazz pertama kalinya di Ausi. Semenjak saat itu, mulai meluaslah perpaduan/kolaborasi antara musik dari berbeda daerah ini.

Di akhir sekmen pertanyaan pertama ini, Dwiki mangatakan bahwa, 30 tahun sudah masa yang ia lewati sebagai pemusik. Ia berharap agar musik yang ia ciptakan bisa disukai orang banyak, dan bisa membanggakan Indonesia.

Tika Bisono. Psikolog anak ini membuka sesi wawacaranya dengan bertanya kepada audience "Siapa disini yang mengikuti UKM kesenian?". Lalu ia bertanya lagi, "Siapa saja yang bisa main musik?"
Beliau mengatakan, jika dilihat dari bakat, orang yang tidak ada bakat musik disebut sebagai penikmat. Musik selain untuk ketatanan rasa, juga sebagai kecerdasan. Pendapat ini diungkap oleh Howard G. 
Kecerdasan musikal merupakan, kecerdasan dimana seseorang bisa karena sudah ada gen, atau memang ada orang yang pandai menangkap solmisasi not.

Tika Bisono menjelaskan pula beberapa kecerdasan yang dipengaruhi musik. Beberapa diantaranya:
1.Kecerdasan Matematika yang meliputi  birama, ketukan
2.Kecerdasan Linguistik yang biasa dikenal sebagai pengembangan bahasa
3.Kecerdasan Intrapersonal, yakni kecerdasan untuk menyelami nilai-nilai yang ada disekitar kita.
4.Kecdasan Ekistensial yang meningkatkan kepercayaan diri, dan eksistensi yang berkembang.

"Zaman dulu tuh berbeda dari zaman sekarang. Dulu musik itu liriknya diambil dari kamus, ada juga dari bahasa sansekerta. Gak kaya zaman sekarang. Komposer-komposer itu ngawur buat lagu. Mereka memiliki kecerdasan linguistik yang rendah. Kok bisa-bisanya menciptakan lagu yang 1 lagu full isinya cuma 1 kalimat. kayak lagunya olga yang 'Hancur-hancur hatiku' sama lagu 'i just wanna say i love you'. Muter-muter itu tok liriknya. Kepribadian yang berkembang itu mempengaruhi genre yang disuka." Ungkap Psikolog anak yang mengaku lebih suka gitar akustik ketimbang elektrik ini.

Dan, di akhir wawancara sekmen ini ia mengatakan bahwa, dalam musik menangkap beberapa hal. Seperti mengenai :
1.Filsafat manusia
2.Humanities (meliputi: Sosiologi, dan Antropologi)
3.Psikologi Umum (meliputi: bahasa tubuh, ekspresi muka, setting lokasi, dan dialog)


Uhukk ehemmm beralih ke salah satu tamu yang disebut-sebut sebagai pendiri Fakultas Psikologi Universitas Pancasila ini. Beliau adalah Prof.Dr.Sarlito W. Sarwono. Pria yang lahir 69 tahun silam ini dengan rendah hatinya berkenan ikut serta dalam acara seminar ini. Dan dahsyatnya, nanti ada 'jam session' dimana bapak psikolog kita tercinta ini berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan beserta team nya yan disebut juga sebagai anak didiknya. Hhhmmmh tapi nanti dulu ceritanya. Balik dulu ke sesi selanjutnya yang difokuskan kepada Dwiki Dharmawan dan Tika Bisono.

Zeppp, sesi selanjutnya dari seminar ini adalah tanya jawabbb, setelah dipersilahkan kepada para audience untuk mengangkat tangan bagi yang ingin bertanya, terpilihlah 2 orang penanya yang berasal dari jurusan yang berbeda.

--> Pertanyaan pertama adalah dari seorang mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2012 yang emm adalah temen kita sendiri, namun dia dari kelas B. dia adalah Jhaihan Farah Nabila. Jihan bertanya mengenai kontribusi lagu anak Indonesia yang kurang.
Dwiki Dharmawan menjawab dengan sedikit bercerita bahwa, anaknya juga lebih menyukai lagu-lagu yang dibawakan band seperti Linking Park, dan Superman Is Death ketimbang lagu anak-anak seusianya. Dwiki menjadikan kekurangan kontribusi tersebut menjadi PR bagi para komposer dan pecinta musik seperti dirinya, dan Tika Bisono.

Sedangkan Tika Bisono menjawab dengan menggunakan cerita juga.Awanya, ia bercerita bahwa ada anak SD yang menginginkan uang 1000 rupiah saja sampai-sampai memasukkan kepala temannya kedalam air sampai temannya itu mati. Lalu ia menjelaskan bahwa sebenarnya, yang paling benar-benar harus disalahkan atas kasus kurangnya pengetahuan anak dibawah umur mengenai lagu-lagu sebayanya adalah guru-guru mereka sendiri. Kebanyakan guru-guru TK tidak mau mengajarkan lagu anak-anak pada muridnya. Padahal sebenarnya, kontribusi lagu anak di Indonesia sangatlah banyak.
Berdasarkan fakta, Tika Bisono pernah membuat sebuah lomba menyanyikan lagu anak-anak. Karena ingin tahu mengenai pengetahuan lagu yang dimiliki anak-anak, ia iseng membuat perhitungan lidi terhadap berapa sering lagu anak yang sama judulnya dibawakan oleh anak yang berbeda. Dan, result mengatakan bahwa kebanyakan anak hanya menyanyikan lagu balonku, pelangi-pelangi, dan cicak-cicak di dinding. Padahal jelas-jelas masih banyak lagu anak-anak lainnya. Beliau mensyukuri, karena setidaknya, anaknya masih bisa menyanyikan lagu anak diluar 3 lagu umum tersebut.
Tika bisono menutup jawaban atas pertanyaan Jihan ini dengan mengatakan bahwa, ia berharap agar tiap-tiap TK seharusnya setiap 1 minggu paling tidak menyanyikan, dan mengajarkan juga lagu anak-anak baru kepada murid-muridnya, dan juga menceritakan dongeng rakyat dari Indonesia, sehingga anak tidak disuguhi cerita dari Walt Disney terus menerus.


Next, 2nd question
--> Dimas, mahasiwa Fikom. "Ada anak kecil yang namanya Tegar, dia jadi tenar karena dengan membawakan lagu 'aku yang dulu bukan aku yang sekarang, dulu disayang sekarang ku ditendang' kenapa sih kok dia malah nyiptain lagu tentang cinta kayak gitu padahal dia masih kecil? Ada gak cara penanggulangannya?"

Jawaban pertama sama seperti tadi dimulai dari Dwiki Dharmawan. ia menjawab bahwa menurutnya, itu semua ada hubungannya dengan industri. Karena, musik adalah komoditi industri yang terbesar. Musik memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun akhirnya menabrak kepatutan yang ada (misal : mengarang lagu bertema cinta-cintaan padahal pengarannya masih kecil atau dibawah umur kategori dewasa, anak kecil yang dandan seperti layaknya orang dewasa). Karena, makin memberi untung maka akan terus makin dilakukan.

Tika Bisono menyetujui jawaban Dwiki. ia turut menambahkan bahwa disini, tuhannya musik itu ada 2 :
1.Rating
2.Trend
Diambilnya contoh dari K-Pop Korea yang rela mempermak habis penampilan mereka agar bisa diterima khalayak umum dengan jalur operasi. K-Pop ini termasuk dalam industri pencetak uang terbesar. Namun, sifatnya sementara. Karena, budaya yang cetek pada dasarnya tidak akan bertahan lama.
Pengaruh lagu-lagu dewasa ini juga memberikan sedikitnya 3 dampak bagi anak-anak :
1.Cara berpakaian
2.Lagu kesukaan
3.Seksualitas

Jawaban dari Tika bisono tadi menutup sesi tanya jawab yang disediakan oleh pembawa acara. Dan sebagai break time, Matthew Sayers melakukan perform beserta tim nya.

Fiuhh pegel juga yah ngetik review iniii, panjang nihhh jangan capeks yah buat yang membaca. Abis ini masih ada lagi tapi dikit lagi kokkk... Sabar sabarrr yahhh hahaha ~

Nexttt langsung aja biar cepet.
Setelah Matthew Sayers perform, Dwiki Dharmawan mengungkapkan bahwa pekerjaan ini adalah hobinya. Dan akan sangat baik bila kita mengerjakan pekerjaan sesuai dengan hobi kita.

Pembawa acara memberikan pertanyaan kepada kedua narasumber ini. Pertanyaannya, "Apa dampak dari mendengar musik?"
Tika Bisono menjawab, "Usia pendengar mempengaruhi jenis musik yang disukai. Maka akan lebih baik kalau lagu populer dijadikan bisa untuk semua usia. Yah contohnya saja, kalau lagu-lagu galau itu. Lagu-lagu tersebut bisa saja justru dijadikan sebagai penarik kesedihan atau lebih seringnya disebut sebagai stimulan agar sedihnya hilang. Lagu-lagu tersebut juga cenderung diidentifikasikan sebagai lagu 'waktu gue sama dia'". Ungkapnya.
Dwiki Dharmawan turut menambahkan, "Begini saja, kenapa tiap acara TV kalau sedang memutar berita kerusuhan, bencana, bakar-bakaran wilayah selalu lebih sering memutar lagu 'everybody hurts' ? Itu dikarenakan, lagu tersebut memiiki lirik dimana kita semua para penyimak bisa tau isi kejadiannya, dan tau perasaannya."

Pertanyaan dari pembawa acara itu menutup wawancara serta diskusi hari ini, namun sebelum acara ini benar-benar selesai, This Is It !! Mas Ito, panggilan akrab kita buat pakar Psikologi Prof.Dr.Sarlito ini akan melakukan jam-ing time bersama Dwiki Dharmawan and team. Sebelumnya, Mas Ito menyampaikan 3 hal :
1.Musik adalah tempat untuk berlatih harmoni. Musik tidak bisa dimainkan tanpa harmoni, dan harmoni juga dimainkan sesuai perannya.
2.Harmonik merupakan kesabaran. Beliau baru 15 tahun belajar bermain saxophone yaitu saat berumur 52 tahun.
3.Beliau terjun ke dunia musik juga karena baginya, jika 1 hari tanpa musik maka kehidupan jadi tidak ada artinya. Dan dia lebih memilih untuk menyukai musik Jazz.

Jam-ing time instrumen ini berjudul "Siang Malam". Setelah Jam-ing time ini, Tika Bisono juga menyanyikan lagu penutup yang berjudul "Melati Suci" karangan Guruh Soekarno Putra diiringi Dwiki Dharmawan dan team. Dan berakhirlah serangkaian acara "Musik dalam Perspektif Psikologi" ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Enah ! jadi udah pada tau kan kenapa aku ngetik sepenggal lirik lagu diawal blog ini tadi ?? hahaha
Mudah-mudahan dengan blog ini, pembaca bisa ikut serta menyimak tayangan ulang acara seminar kemarin :D
hmmm, di akhir postingan ini gak ada kata-kata penutup dari Mas Seta kaya kemarin. Jadi sedenger aku, kata terakhir dari Mas Seta sebelum kita keluar kelas buat ke Gedung Hukum adalah.....



"Jangan lupa buat review dari seminar nanti. Buat review sebaik mungkin." -kataMasSeta-



Sampai ketemu minggu depan !
Tuhan memberkati :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar